Selasa, 17 November 2009

Saya Suka Bedagang

Hari ini hari yang menyenangkan. Aku sekarang berdagang .aku dapat uang 15 ribu, aku nanti akan berdagang lagi yaitu pensil dan isinya. Sekarang daganganku laku lho karena murah-murah semua yang beli adalah Kak Nanda, Anya,Kak Dinda, Ojan. Nah sudah dulu ya.

Dhila, 17 november 2009

saya suka bedagang

saya suka bedagang

Senin, 11 Mei 2009

Rantai Kebaikan

Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan Mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya.

Meskipun pria itu tersenyum wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan.
Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan sementara berdiri disana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan.

Kata pria itu "Saya di sini untuk menolong anda Nyonya.. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong nama saya Bryan Anderson ."
Wah sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes namun bagi wanita lanjut usia seperti dia kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti Ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka.

Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan Ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu.

Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang Nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapa pun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya Itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya.
Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah ditolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya.

Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu dan Bryan menambahkan" Dan ingatlah kepada saya."

Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah menembus kegelapan senja.

Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya.
Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan.

Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya ia membayar dengan uang kertas $100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu.

Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu. Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita Itu: "Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya.. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya inilah yang harus engkau lakukan: 'Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.'"

Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi. Wah masih ada meja-meja yang harus dibersihkan toples gula yang harus diisi dan orang-orang yang harus dilayani namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan sangat sulit mendapatkan uang yang cukup.

Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan "Segalanya akan beres. Aku mengasihimu Bryan Anderson!"

Ada pepatah lama yang berkata "Berilah maka engkau diberi." Hari ini saya mengirimkan kisah menyentuh ini dan saya harapkan anda meneruskannya. Biarkan terang kehidupan kita bersinar. Jangan hapus kisah ini jangan biarkan saja! Kirimkan kepada teman-teman anda! Teman Baik itu seperti bintang-bintang di langit. Anda tidak selalu dapat melihatnya namun anda tahu mereka selalu ada..!

Yuks Kita bagikan kebaikan hari ini pada 1 orang saja semoga rantai ini tdk akan pernah terputus.. Percayalah energi positif itu sifatnya menular

Selasa, 21 April 2009

A Mousetrap

A mouse looked through the crack
in the wall to see the farmer
and his wife open a package.

What food might this contain?'
the mouse wondered - - -
he was devastated to discover
it was a mousetrap.

Retreating to the farmyard,
the mouse proclaimed the warning :
There is a mousetrap in the house!
There is a mousetrap in the house!'

The chicken clucked and scratched,
raised her head and said,
'Mr.Mouse, I can tell this is of grave
concern to you, but it is of no consequence
to me. I cannot be bothered by it.'
The mouse turned to the pig and told him,
'There is a mousetrap in the house!
There is a mousetrap in the house!'
The pig sympathized, but said,
'I am so very sorry, Mr.Mouse,
but there is nothing I can do about it
but pray. Be assured you are in my prayers.'
The mouse turned to the cow and said,
'There is a mousetrap in the house!
There is a mousetrap in the house!'

The cow said, 'Wow, Mr. Mouse.
I'm sorry for you,
but it's no skin off my nose.'
So, the mouse returned to the house,
head down and dejected,
to face the farmer's mousetrap . . . alone. !!
That very night a sound was heard
throughout the house -- like the sound
of a mousetrap catching its prey.
The farmer's wife rushed to see what was caught.
In the darkness, she did not see it was a venomous snake
whose tail the trap had caught.
The snake bit the farmer's wife.

The farmer rushed her to the hospital,
and she returned home with a fever.

Everyone knows you treat a fever
with fresh chicken soup, so the farmer
took his hatchet to the farmyard
for the soup's main ingredient.

But his wife's sickness continued,
so friends and neighbors came to sit
with her around the clock.
To feed them,
the farmer butchered the pig.

The farmer's wife did not get well;
she died.
So many people came for her funeral,
the farmer had the cow slaughtered to
provide enough meat for all of them.
The mouse looked upon it all from his
crack in the wall with great sadness.

So, the next time you hear someone is facing a problem and think it doesn't
concern you, remember ---- when one of us is threatened, we are all at risk.

Jumat, 03 April 2009

Buat Lucu Lucu aja

Bis apa yang cute..??
Bisa gw ;

Orang apa yang keren ???
Orang cuma gw;

Anak apa yg maniez?
Anak-anak bilang sih gw;

Mobil apa yang ok???
Mobilang gw juga boleh;

Lagu apa yang paling sexy?
Lague banget;

Bus apa yang cakep??
Busyet deh gw lagi;

Udang apa yang paling imut?
Udangapa jangan gw lagi ah..;

Kalong apa yang jelek ???
kalongga lo sapa lagi..

Apa kabar Bunda???

Bunda, aku ingin menyebutmu demikian, sebagai penghormatan yang tiada tara. Malam ini, bulan sembunyi dengan angkuhnya, hingga aku tak bisa memandangi warna peraknya. Bintang yang gemerlapan itupun malah ikut mempermainkanku dengan tidak menampakkan diri. Padahal aku sangat ingin bermain-main sejenak, menerbangkan berbagai perasaan. Pada patahan malam ini, hanya ada deru angin yang sedang mencandai daun-daun pohon mangga di seberang kamar. Aku merasakannya dalam gelap. Sesekali aku memandangi langit megah tak berpenyangga.

Bunda,
dalam keheningan hebat ini aku selalu membayangkan senyuman ikhlas yang bunda sunggingkan setiap menjumpaiku. Sebuah senyuman yang sudah menjadi desah nafas tiada pamrih. Aku memahatnya dalam tiap bingkai indah di ruang hati yang sudah menemaniku selama ini.

Oh iya bunda,
aku masih ingat saat aku dengan tanpa beban memintamu menjadi seorang putri raja. Dan bunda menjelma putri raja sepenuh hati, menemaniku bermain saat aku menjadi permaisuri raja. Aku senaang sekali. Padahal kemarinnya aku menginginkan mu berubah menjadi pendongeng, dan sebentar kemudian engkau mulai membuaiku dengan banyak cerita. Aku mungkin akan mengingatnya selalu dalam benak sebagai kenangan tidak biasa. Saat bunda melompat seperti kodok, tertawa menyeramkan seperti nenek sihir, berdesis kepedasan saat monyet mencuri cabai petani. Saat itu aku pasti latah mengikutimu.

Baru kusadari, ternyata bunda bisa menjelma peran apa saja. Koki pintar yang selalu memuasiku dengan makanan tak bertarif. Atau seorang psikolog handal, yang berjam-jam rela menjadi keranjang sampah cerita rutinitas ku tanpa harus dibayar. Dokter yang menjagaku sepanjang malam tanpa lelap sedikitpun, kala aku harus terbaring mengalami sakit dan itu gratis. Kali lain engkau menjadi sahabat dekat yang mengingatkanku untuk berhati-hati dengan seorang pangeran, saat itu aku tersenyum malu, ternyata kau bisa menebak apa yang belakangan itu terjadi. Oh iya aku tidak lupa, ketika bunda menjahitkan ku sebuah gaun krem bermotif sekuntum bunga, meski kau kerjakan manual tapi hasilnya membuatku berucap, "Wah bunda hebat!". Dan aku selalu mengangsurkan geraian rambut ini, tentu saja dengan berdendang bunda akan melakukannya dengan hasil baik. "She is a special barber".

Bunda sayang, besok adalah hari "jadiku". Yah, setiap hari bertanggal 4 di bulan ini ku lewati setiap tahun. Ingatkah bunda, tentang hari besar itu? Aku tahu jawabannya, karena tiap hari itu, bunda akan menyambut dan memelukku dengan berucap "Tambah satu tahun lagi usia anak bunda". Meski tidak pernah ada pesta, aku selalu senang, karena sudah ada hadiah yang paling indah, it's u bunda!.

Bunda, tujuh belas tahun, usiaku esok, Sudah selama itukah aku menapaki hidup? Perasaan baru kemarin aku mengeja "Ini Budi" dan menghapal perkalian 3. Sepertinya baru kemarin aku merepotkanmu dengan pertanyaan-pertanya an ibukota propinsi di Indonesia. Ah bunda, masih segar rasanya merengek-rengek ingin ikut ke kota bersamamu. Padahal sekarang aku bisa pergi kapan saja tanpa takut tidak ditemani.

Sudah selama itukah aku menjadi bebanmu? (Aku sangat yakin engkau tidak berkenan dengan penggunaan kata "beban"). Bagimu, aku adalah tempat untuk mengekspresikan banyak hal, kasih sayang, ketulusan, kebijaksanaan, keluhuran budi, kekayaan alami, kecerdasan, kearifan. Untukmu, aku adalah perwujudan cinta hakiki. Satu hari bunda menangis melihat darah yang keluar ketika aku terjatuh, dan bunda memelukku erat, "Sayang... berikan rasa sakit itu untuk bunda".
Ah bunda, andai saat itu bisa kubujuk untuk kembali, aku tak akan meraung-raung dan tidak membuatmu khawatir, aku akan berkata "Aku baik-baik saja bunda".

My dear bunda,
surat ini sengaja aku tulis. Agar aku bisa menyapamu dengan agung, biar perasaan romantis ini bisa leluasa mengalir. Aku malu menyampaikannya secara langsung. Rasa terima kasih yang menggumpal dalam dada ini biarlah terangkai dalam kalimat-kalimat berirama sopran. Ah, bunda, aku tak punya keberanian untuk menyanjungmu terang-terangan, seperti yang selama ini bunda persembahkan. "Ayo sayang, tidurlah" atau "Duh anak bunda paling cantik sedunia" atau "Jangan begitu, bunda yakin kau anak pintar dan mampu melakukannya dengan baik" bahkan "Anak sholehah tak akan melakukan ini", "Geulis, pinter,sholeh. ....., anak gadis tak baik menyanyi di kamar mandi".

My love bunda,
Kedewasaan (sebuah kata yang kutemukan dalam pelajaran bahasa indonesia) seharusnya menjadi milik seorang yang berusia 17 tahun kan? He..he.. sepertinya aku akan meminta bantuanmu agar bisa memilikinya. Tolong yah!

Bunda, dalam sunyi, aku menyempatkan diri mengingat pesanmu bulan lalu "Seiring usia yang bertambah, sebaliknya jatah umur kita berkurang. Seseorang yang bergembira dengan hari kelahirannya, sesungguhnya dia bersuka dengan majunya kematian". Iya bunda, aku setuju dengan nasihatnya. Aku seharusnya menambah kadar mawas diri, memperbaiki kualitas akhlak dan kepribadian, semakin ringan menolong sesama, makin bijak dalam memilih dan tentu saja kian cendikia. "Tidak lupa diri". Itu tambah bunda kemudian.

Bunda, terima kasih sudah menyeberangkan aku ke usia ini dengan selamat. Terima kasih juga atas rambu-rambu yang senantiasa menjadi pengarah hingga aku tidak terantuk dan tersesat. Berjuta rasa bahagia, karena telah menjadi seorang ibu yang bijaksana, seorang yang selalu mewarnaiku dengan do'a-do'a ikhlas, seorang yang mendorongku untuk menjadi kaya ilmu dan budi. Jasa indah bunda tak terbilang. Aku hanya mampu menggoreskanya dalam sebentuk puisi sederhana: Dia seperti Rimbun pohon kebijaksanaan, Yang selalu naungi dunia kecil milikku. Sebarkan wangi kedamaian tak henti memberiku semangat menapaki hidup

Dia, menjelma telaga teduh sepanjang waktu,
Tempatku bertambat, bermain dan bermimpi
Riak airnya membiakkan banyak kebahagiaan
Menemani segala bentuk hari yang ku lalui

Aku tak pernah mendapatinya kering,
Meski musim tidak terhitung berganti
Aku tak pernah melihatnya tumbang
Walau gelombang yang mendera bertubi-tubi

Dia tetap tersenyum menjumpaiku
Dia tetap membagi aku dengan kecupan sayang
Bunda, aku menyebutmu demikian

Dan bunda, malam ini sudah sepatutnya aku mengulurkan renda-renda do'a untuk mu. Doa yang bunda sendiri ajarkan. "Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, Sayangilah mereka seperti mereka menyayangi dan mendidik aku di waktu kecil".

My beloved bunda,
bila esok tiba, tak kan kusia-siakan untuk mereguk kebersamaan dengan engkau. Kesempatan untuk mendulang lebih banyak hal menakjubkan juga tidak akan kumubadzirkan. Engkau adalah orang terkuat di dunia kecilku, dalam naungan langit mungil yang selalu mengakrabkanku dengan dunia sebenarnya. Engkau adalah muara dari segala hal yang aku butuhkan. Aku tidak akan menjadi apa-apa bila keberadaanmu nihil. Dan bunda, bantu aku manjadi sosok yang diharapkanmu.
Karena aku sadar, tidak mudah membangunnya sendirian. Akhirnya semoga bunda baik-baik saja. Semoga Allah selalu menyayangimu dengan memberimu kekuatan untuk selalu menyayangiku :). Bunda, tunggu aku besok, aku berjanji untuk membuatmu tersenyum menatap bola raksasa itu pergi ke kaki langit. "Hueammmm" aku mengantuk, jam mungil yang tergantung memberitahuku bahwa jarum pendeknya sudah ada di angka 2.

Sekian dulu bunda.
Peluk cium dari ananda

Selasa, 31 Maret 2009

Mutiara Kata

"Hidup ini bukan keberuntungan. Semua keberhasilan saya adalah hasil kerja keras saya, tentunya atas izin Allah SWT".

"Ketika seseorang berbuat baik kepada saya, saya harus meneruskan kebaikan itu kepada semua orang".

"Saya tidak harus menjadi orang yang pandai bicara, yang penting saya mampu menyatakan perasaan secara jujur dan tegas".

"Apa yang telah saya raih hingga saat ini merupakan cerminan seberapa keras, cerdas dan ikhlas saya telah berjuang".

"Hidup selalu diwarnai dengan perubahan, makanya saya harus siap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk sekalipun".

"Prinsip saya adalah lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak berusaha sama sekali. Ketika saya gagal, saya belajar darinya tentang bagaimana menuju sukses kemudian".

"Ketika saya tidak berhasil mencapai tujuan, bukan berarti saya gagal, melainkan belum menemukan cara-cara yang tepat untuk berhasil".

"Bagaimana kita sekarang mungkin merupakan kesalahan orang tua kita, namun bagaimana kita selanjutnya adalah tanggung jawab kita sepenuhnya".

"Saya sadar bahwa pekerjaan saya begitu banyak, karenanya saya berupaya mengelola waktu sebaik-baiknya".

"Kelebihan orang lain adalah sarana bagi saya untuk belajar dari mereka".

"Saya harus bertanggung jawab penuh atas semua kesalahan yang saya lakukan ".

"Ketika orang lain bersikap negatif kepada saya, saya akan berbicara dengannya dan mencari jalan keluar".

"Saya senang orang lain berhasil, itu akan memotivasi saya untuk lebih maju".

"Saya tak ingin menyulitkan orang lain dengan perilaku negatif saya, karenanya sebisa mungkin saya mengubahnya".

“Orang yang berbuat baik, sekalipun rezeki belum tiba bencana telah menjauhinya.”
“Orang yang berbuat jahat,sekalipun bencana belum tiba,rezeki telah menjauhinya.”

Senin, 30 Maret 2009

Math and my math's teacher

Hari ini aku teringat akan pelajaran matematika dan guru2 yang sangat berpengaruh pada diriku selama ini. Alhamdulillah hari ini adalah mid test Dhila di SD Amalina yang kebetulan matematika adalah ujian pertamanya minggu ini.
Sambil memboncengi dia, Imam dan bundanya tadi pagi aku sempat mengingatkan kembali penjumlahan dasar untuk dia. Nah dalam perjalanan ini lah, aku teringat bagaimanakah aku dulunya? Ketika usia yang sama dengan dia? Siapakah guru matematika yang mengantarkan aku selalu meraih nilai tertinggi untuk bidang yang sangat ditakuti oleh banyak murid ini?
Yup, ternyata anak bisa mengembalikan ingatan kita pada masa kecil dulu, terumata masa-masa yang sangat berkesan.

Yang jelas aku tak banyak ingat saat dikelas satu, mungkin hampir semua pelajarannya. Hal ini mungkin karena banyak moment ku tersita saat papa lebih banyak dirawat dirumah tek Chun di Padang hingga wafatnya yang dimakamkan di kampung disamping rumah, di Lima Kaum Batusangkat. Papa memang lama dirawat disana dan dikampung karena penyakit beliau yang lumayan parah, yakni kanker paru-paru. Maklum beliau perokok dan pengopi berat. Ini jua yang akhirnya menginsyafi aku untuk berhenti merokok total menjelang SMA.

Dikelas dua, wali kelas ku adalah ibu Nurlen, seorang guru yang sangat bijak dan sudah berumur. Alhamdulillah pelajaran matematika yang beliau ajarkan bagi saya dan teman sangat menyenangkan, dan setiap akan pulang kami dibiasakan untuk berlomba menjawab pertanyaan beliau, dan yang paling sering itu adalah soal matematika. Alhamdulillah saya termasuk yang paling cepat pulang karena bisa menjawab pertanyaan beliau dibandingkan teman teman lainnya. Dengan bimbingan beliau di kelas dua itulah aku sudah hapal perkalian1 hingga perkalian 10. Semoga ALLAH memuliakan beliau dan menjadi apa yang saya dapat sebagai ibadah buat beliau.

Saat di kelas 6 salah seorang teman kelasku, Selhardi yang rumah kami berdekatan mengajak untuk les di rumah ibu Yusnini, guru matematika kami. Les itu sebagai persiapan untuk menghadapi Ebtanas SD. Les itu dilaksanakan malam hari, selepas magrib dan itu kami tempuh dengan berjalan kaki. Untuk ke rumah beliau, kami harus menempuh jalan melingkar seperti huruf U, yang sebenarnya jika siang hari bisa dipersingkat/dipotong secara garis lurus saja. Namun karena malam kami tak berani menempuhnya, selian gelap dan harus melewati jembatan dan rimbunnya pohon bambu dikiri kanan jembatan tersebut serta “tabek” yang ada beberapa petak sebelum dan selepas jembatan tersebut.

Ibu Yusnini ini adalah guru “killer”, yang tak bisa kompromi apabila tak menjwab pertanyaan beliau. Pernah lebih dari setangah kelas yang berdiri di depan kelas dikarenakan tak bisa menjawab pertanyaan beliau. Maklum waktu itu semuanya mesti dicatat di papan tulis, karena buku teks yang ada tak boleh di coret agar bisa digunakan oleh adik kelas berikutnya. Kadang kala jawaban itu langsung ditulis di papan tulis, tergantung siapa yang beliau tunjuk. Yang bisa boleh duduk kembali, yang tak bisa berdiri di depan kelas.

Bahkan pernah ada yang di”antuak”an kepalanya kepapan tulis, saking kesalnya beliau karena teman saya tadi tak bisa menjawab. Alhamdulillah dengan “keras” nya didikan beliau saat itu membuat kami terlecut untuk bisa menjawab setiap tuga/PR dan pertanyaan2 beliau. Saya dan teman2 yang ikut les dengan beliau termasuk yang bisa menjawab dengan mudah PR dan tugas-tugas beliau, dan kami pun lulus dengan nilai yang sangat memuaskan saat itu. Saya lulus SD dengan nilai tertinggi, 34 koma sekian dari 5 pelajaran, yang jika dirata-ratakan hampir tujuh untuk tiap pelajarannya. Selepas SD hampir tak pernah bertemu lagi dengan Ibu Yusnini ini, dan terakhir kabar beliau pindah ke bukittingi hingga wafat disana. Semoga ALLAH memberi tempat terbaik di alam sana.

Di SMP N 1 Simpang Padang saya masuk kelas unggulan, karena penempatan siswanya saat itu berdasarkan urutan NEM tertinggi untuk setiap kelas. Hingga tamat guru matematika kami adalah Ibu Sihotang. Beliau mengajar khas logat bataknya, keras juga namun mengena dalam mengajar. Beliau diberi kekhususan oleh Yang Maha Kuasa dengan memiliki mata yang juling, berkaca mata pula. Oh ya dikelas satu saat itu kami duduk dengan satu bangku satu anak. Pernah aku suatu kali saat dikelas satu ketika itu, beliau bertanya tentang satu soal, sambil berjalan dri depan ke belakang. Saat itu aku tak berpikir pertanyaan tersebut ditujukan padaku, aku pun sibuk dengan melihat teks buku matematika yang beliau ajarkan karena aku pikir pasti untuk si Deddy yang duduku dibelakang ku. Tiba-tabi “Bruk”, punggung ku dipukul dengan buka yang beliau penggang. Aku terhenyak, terdiam. Tak siap menerima pukulan buku yang lumayan tebal tersebut. Beliau marah karena aku diam, tak mengubris soal yang beliau berikan yang ternyata untuk aku. Aku tak bisa menjawab karena kaget, bukan karena tak bisa menjawab soal tersebut. Saat itu memang aku keliahtan sedikit marah, walaupun dalam hati tapi pasti kelihatan lah di wajah aku saat itu. Dia pun akhirnya maklum, namun sebagian teman2 ada yang menahan tawa, tersenyum tapi tak ada yang menampakannya secara langsung, takut juga mungkin kena cipratannya. Namun ketika jam istirahat kejadian tadi jai bahan tertawaan bagi teman2 ku di kelas 1.1.

Sejak saat itulah aku lebih konsentrasi lagi saat Ibu Sihotang mengajar, dan alhamdulillah saya termasuk murid beliau yang memiliki NEM tertinggi untuk bidang matematika. Lulus dari SMP dengan nilai 42 koma sekian dengan 6 mata pelajaran. Ibu Sihotang kami ini kadang juga bisa mengajarkan matematika ini serius, namun kadang penuh canda juga, bahkan kadang kala beliau bisa ngakak, tertawa lepas didalam kelas. Di saat mau Ebtanas, sore harinya kami dilatih membahas ujian2 tahun lalu, dan beliau termasuk orang yang paling bersemagat, memotivasi kami untuk lebih jeli dan cermat dalam menjawab pertanyaan matematika yang punya jawaban pasti.

Di SMAN 2 Duri, aku diajar oleh Ibu Em dari kelas satu hingga kelas tiga, persis ketika alhamdulillah diajar oleh satu guru, sehingga aku bisa paham karakter guru tersebut dan guru pun bisa memahami kami. Ibu Em ini mengajar hanya di kelas Fisika dan Bio saja sejak kelas dua, hal yang memang berbeda dengan matematika untuk IPS. Beliau guru yang sangat sabar, suaranya lembut. Sangat beda dengan Ibu Yusnini dam Ibu Sihotang. Kadang untuk menyimak uraian beliau, kita harus konsentarsi penuh. Alhamdulillah selama diajar beliau boleh dikatakan saya adalah murid yang paling bisa dan rajin dalam setiap memecahkan sola-sola yang sulit. Pernah, sahabat ku, juara kelas kami, Albertina (diterima di matematika UGM melalui jalur PBUD) bertanya pada bu Em tentang soal matematika yang sulit, Buk Em meminta saya untuk bisa memecahkannya. Alhamdulillah kami pun bisa menjawab pertanyaan tersebut. Hal yang sangat sulit bagi kebanyak siswa adalah trigonometri, namun ini lah yang aku sukai, aku bisa mengutak-atik menjadi apa saja, sesuai targetyang diinginkan. Begitu juga dengan diferensial, I love it so much.

Saat di dua/tiga Fisika itu banyak diantara kami yang sanat menyukai pelajaran matematika ini, alhamdulillah dari kelas kami pun banyak yang bisa melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi. Lima dari kami yang ikut Penyaringan Bibit Unggul Daerah, termasuk saya, Albertina lahyang paling beruntung dan pilihannya pun tetap matematika. Saya pun lulus Ebtanas dengan nilai matematika yang tertinggi dengan angka 8,25 saat itu, sama dengan nilai bahasa Inggris.

Namun kecintaan terhadap matematika ku tak berlanjut hingga ke PTN. Aku diterima di Kimia Unand, namun dari nilai kalkulus I, II dan III tak ada yang istimewa. Hal ini mungkin karena pengaruh dosennya juga. Aku di kelas ganjil, mendapatkan dosen pria seorang perokok berat, yang sangat tergantung dengan sebatang rokok. Yang bisa kehabisan ide jika tidak meng”isap”. Entah karena ketidaksukaan pada pak dosen ini, maka aku tak bisa menumbuhkan “cinta” yang berlebih pada Kalkulus.

Demikianlah penggalan bermatematikaku, semoga bisa menjadi bahan renungan juga buat Dhila nantinya. Wassalam

Selasa, 24 Maret 2009

brainpop

ada keywordnya, yakni nama guru bio

Senin, 23 Maret 2009

Berjalan Dengan Keong

Berjalan Dengan Keong
Oleh: NN.
Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan. Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha keras merangkak. Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit. Aku mendesak, menghardik, memarahinya! , Keong memandangku dengan pandangan meminta-maaf, serasa berkata : "aku sudah berusaha dengan segenap tenaga !"
Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, keong terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan. Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan. Ya Tuhan! Mengapa ? Langit sunyi-senyap. Biarkan saja keong merangkak didepan, aku kesal dibelakang. Pelankan langkah, tenangkan hati....
Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga. Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut. Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing. Aku lihat langit penuh bintang cemerlang. Oh? Mengapa dulu tidak rasakan semua ini? Barulah aku teringat, Mungkin aku telah salah menduga!
Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalo aku berjalan sendiri dengan cepatnya.
"He's here and with me for a reason"
 Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi, Haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu. Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.
 Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya. Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.
 Saat bertemu penolongmu, Ingat untuk bersyukur padanya. Karena ialah yang mengubah hidupmu
 Saat bertemu orang yang pernah kau cintai, Ingatlah dengan tersenyum untuk berterima-kasih. Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.
 Saat bertemu orang yang pernah kau benci, Sapalah dengan tersenyum. Karena ia membuatmu semakin teguh/kuat.
 Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, Baik-baiklah berbincanglah dengannya. Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.
 Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai, Berkatilah dia. Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia ?
 Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu, Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu. Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu
 Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan
 Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup, Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu. Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati..

Ultah Imam

Alhamdulillah, pada Sabtu 21 maret yang lalu Imam berusia 3 tahun. Kami merayakannya dengan sederhana bersama dengan seisi keluarga. Kue ulang tahunnya dibelikan oleh Ante Anda berikut dengan lilinnya. Lilin ditiup berkali-kali hingga puas.
Kue di potong, dimakan bersama dengan anggota keluarga yang ada waktu itu, saya, Imam, Dhila, Ante Yolanda dan mbak Fitri.
Dengan gembira Imam membagikan potongan kuenya pada kami semua. Bundanya saat itu sedang mengajar di SMF Ditkesad, namun pagi sebelum berangkat sudah cipika-cipiki dengan Imam. Hingga bundanya datang, sorenya kue tart tersebut masih tersisa hingga minggu pagi dan di bagi-bagi kan buat teman-teman dia yang ada disekitar rumah. Dhila lah yang mengantarkannya.
Alhamdulillah, menjelang sebulan Imam berulang tahun dia sudah ikut sholat bersama kami. Sedikit demi sedikit kami mengajrakan cara berwudhu, walaupun hingga saat ini belum begitu sempurna, tapi dia sangat antusias apabila melihat kami ke kamar mandi untuk berwudhu. Maklum karena masih anak-anak, dia sangat memperhatikan cara-caara kami wudhu dan sholat.
Sajadahnya juga tersendiri, yang paling besar yang kami miliki. Begitu juga terhitung menjelang ultah Imam, kami sudah mulai membiasakan untuk magrib dan isya di masjid Puri Bintaro Hijau. Masjid yang baru selesai dibangun, dan sudah mulai aktif sholat berjamaahnya. Alhamdulillah, dia sudah mulai betah duduk di masjid.
Hehehe, walau dia Imam, tapi sholatnya di shaf belakang.

Rabu, 18 Maret 2009

Dhila masuk SD

Sekedar berbagi pengalama ketika Dhila akan masuk SD tahun lalu. Saat itu kami pindahan dari Kreo ke rumah sekarang, Puri Bintaro Hijau pertengahan desember 2007 dengan kondisi rumah yang belum direnovasi. Tiga hari setalah pindh kami harus pulang ke kampung karena Rini, adikku akan menikah pada bulan tersebut. Tiga minggu lebih di kampung, Sumbar dan Riau, kami kembali lagi ke Jakarta.
Tak dapat dibayangkan berapa dana yang terkuras sementara rumah masih berantakan, dapur pun masih beralas tanah. So selama lebih kurang 3 bulan renovasi mulailah kami dapat hidup sehat dan layak, tak ada debu, pasir, semen etc.
Tabungan habis dan hutang pun masih tersisa pada saudara dan teman yang mesti dicicil, dan tak terbayangkan bahwa Dhila akan masuk ke sekolah swasta. Akhirpun kami bertekad mengusahakan Dhila untuk masuk SD Negeri. Niat masuk ke swasta pun harus dikubur karena seleksi swasta biasanya sudah tutup pada bulan Februari.
Alhamdulillah pada akhir Mei, ternyata tabungan pendidikan yangselama ini rutin di potong langsung di bank Niaga sudah jatuh tempo lebihkurang 5 juta rupiah. Kami pun berpikiri untuk mencoba ulang mencari sekolah swasta. Kami coba hunting yang terdekat dekat rumah terlebih dahulu. Yang jadi alternatif adalah SD muhammadyah, formulir pun diambil.
Lainnya adalah SDN favorit, kita cari info sebanyak mungkin, bahkan kita langsung datangi majelis guru SD tersebut. Sayang dengan sistem yang ada saat itu bahwa pendaftaran online, usia menjadi prioritas, dan tak ada jaminan bahwa anak akan lulus di sekolah yang kita minati. Dengan sistem online, bahwa bila tak bisa di sekolah favorit anak akan di tempatkan di sekolah lainnya berdasarkan prioritas, yang bisa jadi lebih jauh dari lokasi rumah/tempat tinggal. Disamping itu juga bahwa Dhila terlahir pada 1 Oktober sehingga usianya saat itu belum genap 6 tahun. Berdasarkan kondisi tersebut makanya kami coba lagi mencari swasta lainnya.
Selain telah mengisi formulir SD Muhammadyah, secara iseng saja saya coba tanyakan ke SD Islam Amalina, apakah masih ada pelungan buat Dhila disana. Kalo tak salah saat itu diakhir mei. Alhamdulilah untuk sementara dia masuk sebagai cadangan no 11. Boleh dikatakan hampir 2/3 hari saya coba tanyakan terus ke bagian admin nya kapan seleksi untuk yang cadangan. Entah kenapa hingga saya dapt info terakhir bahwa ada calon siswa terseleksi yang mengundurkan diri dikarenakan ayahnya di PHK. Saya kejar terus info ini, kapan seleksi untuk yang cadangan.
Alhamdulillah, jadwal didapat. Kami antar Dhila waktu itu bersama-sama, saya, bundanya, Dhila dan Imam. Dengan aneka test yang dilalui Dhila, mulai membaca, menulis, berhitung, menggambar/mewarnai, hapalan surat pendek, mengaji (IQRO’) hingga tanya/jawab. Alhamdulillah total score yang dia dapat adalah 975. Hasil ini kami ketahui ketika tanya/jawab dengan orang tua. Guru yang menyeleksi menyampaikan bahwa kemampuan Dhila sudah OK dan dia langsung dinyatakan lulus seleksi. Alhamdulillah, tak terbayangkan betapa gembiranya kami. Selain bersyukur pada ALLAH SWT yang telah memberikan petunjuk dan hidayah melalui kesabaran dan kegigihan selama ini, pantas jua lah kami berterima kasih pada buk Dewi, bu Harto dan guru2 lainnnya di TK Dua Sejoli yang telah membimbing Dhila selama ini.
Alhamdulillah dengan segala rezeki yang dimiliki menjelang masuk sekolah segala kewajiban diselesaikan, yakni uang masuk dan SPPnya untuk bulan pertama sebanyak 7,5 juta rupiah harus dibayar. Alhamdulillah, jika dibandingkan dengan SDI yang ada dilingkungan kami inilah SD yang kualitas Ok dan harga nya terjangkau, bila dibandingkan dengan SDI Annisa dan SDI Auliya (t4 ibu Irmi mengajar).
Ungkapan terima kasih buat guru2 TK Dhila langsung kami sampaikan ketika banyak orangtua masih sibuk mencari sekolah buat anak-anak mereka.
Ada banyak hikmah disini:
1. Kegigihan orang tua mencarikan sekolah yang tepat buat sang buah hati mulai dari mencari info sekolah di area yang diminati hingga beurusan dengan bagian adiministrasi sekolah.
2. Kesabaran dan senantiasa percaya pada ALLAH SWT bahwa setiap anak pasti ada rezekinya masing-masing.
3. Rasa syukur pada sang Maha Kuasa dan rasa terima kasih pada guru2 yang telah membantu proses mengajar anak kita.
4. Kebersamaan dalam mendukung kemauan anak. (Ada sepenggal cerita tentang keyakinan Dhila bahwa dia yakin akan bersekolah di Amalina, padahal waktu itu kita masih survey)
5. dll (tambahin aja ya…)

Demikian sekedar mengingat apa yang dulu pernah kami alami, semoga ada manfaat. Insya ALLAH dilain episode akan disambung. Wassalam

Selasa, 17 Maret 2009

Hasil Ulangan Kompetensi

Alhamdulillah, siang tadi saya dan bunda baru malihat hasil ulangan kompetensi Dhila yang telah dilakukan beberapa minggu nan lalu. Hasilnya sangat memuaskan. Nilai terendah hanya 88 untuk tiga mata pelajaran dan yang tertinggi 100 untuk pelajaran agama. Matematikanya 94, memuaskan.Yang lainnya diatas 90-an.
Insya ALLAH ada perbaikan ke depan sehingga nilai ujian UTS nya, awal April ini bisa lebih baik lagi. Teringat komentar dia saat habis ulangan kemarin: "Kakak ada cerobohnya juga", koment di begini menggelikan juga bagi kami.
Dia tahu dia ceroboh, mudah-mudahan ALLAH SWT memberi kami kesabaran dan ketekunan dalam mendidik Dhila dan Imam di kemudian hari. Ya, ALLAH ya Rabbi, bantu kami dalam menjauhkan mereka dari sifat ceroboh, dan senantiasa tunjuki kami apabila melakukan hal yang ceroboh. Jangan biarkan kami tenggalam dalam kecerobohan, ya ALLAH.
Ya Allah berilah kekuataan untuk menyempurnakan apa yang kami miliki, termasuk qalbu dan akal kami. Amin, amin ya ALLAH.