Rabu, 18 Maret 2009

Dhila masuk SD

Sekedar berbagi pengalama ketika Dhila akan masuk SD tahun lalu. Saat itu kami pindahan dari Kreo ke rumah sekarang, Puri Bintaro Hijau pertengahan desember 2007 dengan kondisi rumah yang belum direnovasi. Tiga hari setalah pindh kami harus pulang ke kampung karena Rini, adikku akan menikah pada bulan tersebut. Tiga minggu lebih di kampung, Sumbar dan Riau, kami kembali lagi ke Jakarta.
Tak dapat dibayangkan berapa dana yang terkuras sementara rumah masih berantakan, dapur pun masih beralas tanah. So selama lebih kurang 3 bulan renovasi mulailah kami dapat hidup sehat dan layak, tak ada debu, pasir, semen etc.
Tabungan habis dan hutang pun masih tersisa pada saudara dan teman yang mesti dicicil, dan tak terbayangkan bahwa Dhila akan masuk ke sekolah swasta. Akhirpun kami bertekad mengusahakan Dhila untuk masuk SD Negeri. Niat masuk ke swasta pun harus dikubur karena seleksi swasta biasanya sudah tutup pada bulan Februari.
Alhamdulillah pada akhir Mei, ternyata tabungan pendidikan yangselama ini rutin di potong langsung di bank Niaga sudah jatuh tempo lebihkurang 5 juta rupiah. Kami pun berpikiri untuk mencoba ulang mencari sekolah swasta. Kami coba hunting yang terdekat dekat rumah terlebih dahulu. Yang jadi alternatif adalah SD muhammadyah, formulir pun diambil.
Lainnya adalah SDN favorit, kita cari info sebanyak mungkin, bahkan kita langsung datangi majelis guru SD tersebut. Sayang dengan sistem yang ada saat itu bahwa pendaftaran online, usia menjadi prioritas, dan tak ada jaminan bahwa anak akan lulus di sekolah yang kita minati. Dengan sistem online, bahwa bila tak bisa di sekolah favorit anak akan di tempatkan di sekolah lainnya berdasarkan prioritas, yang bisa jadi lebih jauh dari lokasi rumah/tempat tinggal. Disamping itu juga bahwa Dhila terlahir pada 1 Oktober sehingga usianya saat itu belum genap 6 tahun. Berdasarkan kondisi tersebut makanya kami coba lagi mencari swasta lainnya.
Selain telah mengisi formulir SD Muhammadyah, secara iseng saja saya coba tanyakan ke SD Islam Amalina, apakah masih ada pelungan buat Dhila disana. Kalo tak salah saat itu diakhir mei. Alhamdulilah untuk sementara dia masuk sebagai cadangan no 11. Boleh dikatakan hampir 2/3 hari saya coba tanyakan terus ke bagian admin nya kapan seleksi untuk yang cadangan. Entah kenapa hingga saya dapt info terakhir bahwa ada calon siswa terseleksi yang mengundurkan diri dikarenakan ayahnya di PHK. Saya kejar terus info ini, kapan seleksi untuk yang cadangan.
Alhamdulillah, jadwal didapat. Kami antar Dhila waktu itu bersama-sama, saya, bundanya, Dhila dan Imam. Dengan aneka test yang dilalui Dhila, mulai membaca, menulis, berhitung, menggambar/mewarnai, hapalan surat pendek, mengaji (IQRO’) hingga tanya/jawab. Alhamdulillah total score yang dia dapat adalah 975. Hasil ini kami ketahui ketika tanya/jawab dengan orang tua. Guru yang menyeleksi menyampaikan bahwa kemampuan Dhila sudah OK dan dia langsung dinyatakan lulus seleksi. Alhamdulillah, tak terbayangkan betapa gembiranya kami. Selain bersyukur pada ALLAH SWT yang telah memberikan petunjuk dan hidayah melalui kesabaran dan kegigihan selama ini, pantas jua lah kami berterima kasih pada buk Dewi, bu Harto dan guru2 lainnnya di TK Dua Sejoli yang telah membimbing Dhila selama ini.
Alhamdulillah dengan segala rezeki yang dimiliki menjelang masuk sekolah segala kewajiban diselesaikan, yakni uang masuk dan SPPnya untuk bulan pertama sebanyak 7,5 juta rupiah harus dibayar. Alhamdulillah, jika dibandingkan dengan SDI yang ada dilingkungan kami inilah SD yang kualitas Ok dan harga nya terjangkau, bila dibandingkan dengan SDI Annisa dan SDI Auliya (t4 ibu Irmi mengajar).
Ungkapan terima kasih buat guru2 TK Dhila langsung kami sampaikan ketika banyak orangtua masih sibuk mencari sekolah buat anak-anak mereka.
Ada banyak hikmah disini:
1. Kegigihan orang tua mencarikan sekolah yang tepat buat sang buah hati mulai dari mencari info sekolah di area yang diminati hingga beurusan dengan bagian adiministrasi sekolah.
2. Kesabaran dan senantiasa percaya pada ALLAH SWT bahwa setiap anak pasti ada rezekinya masing-masing.
3. Rasa syukur pada sang Maha Kuasa dan rasa terima kasih pada guru2 yang telah membantu proses mengajar anak kita.
4. Kebersamaan dalam mendukung kemauan anak. (Ada sepenggal cerita tentang keyakinan Dhila bahwa dia yakin akan bersekolah di Amalina, padahal waktu itu kita masih survey)
5. dll (tambahin aja ya…)

Demikian sekedar mengingat apa yang dulu pernah kami alami, semoga ada manfaat. Insya ALLAH dilain episode akan disambung. Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar