Selasa, 31 Maret 2009

Mutiara Kata

"Hidup ini bukan keberuntungan. Semua keberhasilan saya adalah hasil kerja keras saya, tentunya atas izin Allah SWT".

"Ketika seseorang berbuat baik kepada saya, saya harus meneruskan kebaikan itu kepada semua orang".

"Saya tidak harus menjadi orang yang pandai bicara, yang penting saya mampu menyatakan perasaan secara jujur dan tegas".

"Apa yang telah saya raih hingga saat ini merupakan cerminan seberapa keras, cerdas dan ikhlas saya telah berjuang".

"Hidup selalu diwarnai dengan perubahan, makanya saya harus siap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk sekalipun".

"Prinsip saya adalah lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak berusaha sama sekali. Ketika saya gagal, saya belajar darinya tentang bagaimana menuju sukses kemudian".

"Ketika saya tidak berhasil mencapai tujuan, bukan berarti saya gagal, melainkan belum menemukan cara-cara yang tepat untuk berhasil".

"Bagaimana kita sekarang mungkin merupakan kesalahan orang tua kita, namun bagaimana kita selanjutnya adalah tanggung jawab kita sepenuhnya".

"Saya sadar bahwa pekerjaan saya begitu banyak, karenanya saya berupaya mengelola waktu sebaik-baiknya".

"Kelebihan orang lain adalah sarana bagi saya untuk belajar dari mereka".

"Saya harus bertanggung jawab penuh atas semua kesalahan yang saya lakukan ".

"Ketika orang lain bersikap negatif kepada saya, saya akan berbicara dengannya dan mencari jalan keluar".

"Saya senang orang lain berhasil, itu akan memotivasi saya untuk lebih maju".

"Saya tak ingin menyulitkan orang lain dengan perilaku negatif saya, karenanya sebisa mungkin saya mengubahnya".

“Orang yang berbuat baik, sekalipun rezeki belum tiba bencana telah menjauhinya.”
“Orang yang berbuat jahat,sekalipun bencana belum tiba,rezeki telah menjauhinya.”

Senin, 30 Maret 2009

Math and my math's teacher

Hari ini aku teringat akan pelajaran matematika dan guru2 yang sangat berpengaruh pada diriku selama ini. Alhamdulillah hari ini adalah mid test Dhila di SD Amalina yang kebetulan matematika adalah ujian pertamanya minggu ini.
Sambil memboncengi dia, Imam dan bundanya tadi pagi aku sempat mengingatkan kembali penjumlahan dasar untuk dia. Nah dalam perjalanan ini lah, aku teringat bagaimanakah aku dulunya? Ketika usia yang sama dengan dia? Siapakah guru matematika yang mengantarkan aku selalu meraih nilai tertinggi untuk bidang yang sangat ditakuti oleh banyak murid ini?
Yup, ternyata anak bisa mengembalikan ingatan kita pada masa kecil dulu, terumata masa-masa yang sangat berkesan.

Yang jelas aku tak banyak ingat saat dikelas satu, mungkin hampir semua pelajarannya. Hal ini mungkin karena banyak moment ku tersita saat papa lebih banyak dirawat dirumah tek Chun di Padang hingga wafatnya yang dimakamkan di kampung disamping rumah, di Lima Kaum Batusangkat. Papa memang lama dirawat disana dan dikampung karena penyakit beliau yang lumayan parah, yakni kanker paru-paru. Maklum beliau perokok dan pengopi berat. Ini jua yang akhirnya menginsyafi aku untuk berhenti merokok total menjelang SMA.

Dikelas dua, wali kelas ku adalah ibu Nurlen, seorang guru yang sangat bijak dan sudah berumur. Alhamdulillah pelajaran matematika yang beliau ajarkan bagi saya dan teman sangat menyenangkan, dan setiap akan pulang kami dibiasakan untuk berlomba menjawab pertanyaan beliau, dan yang paling sering itu adalah soal matematika. Alhamdulillah saya termasuk yang paling cepat pulang karena bisa menjawab pertanyaan beliau dibandingkan teman teman lainnya. Dengan bimbingan beliau di kelas dua itulah aku sudah hapal perkalian1 hingga perkalian 10. Semoga ALLAH memuliakan beliau dan menjadi apa yang saya dapat sebagai ibadah buat beliau.

Saat di kelas 6 salah seorang teman kelasku, Selhardi yang rumah kami berdekatan mengajak untuk les di rumah ibu Yusnini, guru matematika kami. Les itu sebagai persiapan untuk menghadapi Ebtanas SD. Les itu dilaksanakan malam hari, selepas magrib dan itu kami tempuh dengan berjalan kaki. Untuk ke rumah beliau, kami harus menempuh jalan melingkar seperti huruf U, yang sebenarnya jika siang hari bisa dipersingkat/dipotong secara garis lurus saja. Namun karena malam kami tak berani menempuhnya, selian gelap dan harus melewati jembatan dan rimbunnya pohon bambu dikiri kanan jembatan tersebut serta “tabek” yang ada beberapa petak sebelum dan selepas jembatan tersebut.

Ibu Yusnini ini adalah guru “killer”, yang tak bisa kompromi apabila tak menjwab pertanyaan beliau. Pernah lebih dari setangah kelas yang berdiri di depan kelas dikarenakan tak bisa menjawab pertanyaan beliau. Maklum waktu itu semuanya mesti dicatat di papan tulis, karena buku teks yang ada tak boleh di coret agar bisa digunakan oleh adik kelas berikutnya. Kadang kala jawaban itu langsung ditulis di papan tulis, tergantung siapa yang beliau tunjuk. Yang bisa boleh duduk kembali, yang tak bisa berdiri di depan kelas.

Bahkan pernah ada yang di”antuak”an kepalanya kepapan tulis, saking kesalnya beliau karena teman saya tadi tak bisa menjawab. Alhamdulillah dengan “keras” nya didikan beliau saat itu membuat kami terlecut untuk bisa menjawab setiap tuga/PR dan pertanyaan2 beliau. Saya dan teman2 yang ikut les dengan beliau termasuk yang bisa menjawab dengan mudah PR dan tugas-tugas beliau, dan kami pun lulus dengan nilai yang sangat memuaskan saat itu. Saya lulus SD dengan nilai tertinggi, 34 koma sekian dari 5 pelajaran, yang jika dirata-ratakan hampir tujuh untuk tiap pelajarannya. Selepas SD hampir tak pernah bertemu lagi dengan Ibu Yusnini ini, dan terakhir kabar beliau pindah ke bukittingi hingga wafat disana. Semoga ALLAH memberi tempat terbaik di alam sana.

Di SMP N 1 Simpang Padang saya masuk kelas unggulan, karena penempatan siswanya saat itu berdasarkan urutan NEM tertinggi untuk setiap kelas. Hingga tamat guru matematika kami adalah Ibu Sihotang. Beliau mengajar khas logat bataknya, keras juga namun mengena dalam mengajar. Beliau diberi kekhususan oleh Yang Maha Kuasa dengan memiliki mata yang juling, berkaca mata pula. Oh ya dikelas satu saat itu kami duduk dengan satu bangku satu anak. Pernah aku suatu kali saat dikelas satu ketika itu, beliau bertanya tentang satu soal, sambil berjalan dri depan ke belakang. Saat itu aku tak berpikir pertanyaan tersebut ditujukan padaku, aku pun sibuk dengan melihat teks buku matematika yang beliau ajarkan karena aku pikir pasti untuk si Deddy yang duduku dibelakang ku. Tiba-tabi “Bruk”, punggung ku dipukul dengan buka yang beliau penggang. Aku terhenyak, terdiam. Tak siap menerima pukulan buku yang lumayan tebal tersebut. Beliau marah karena aku diam, tak mengubris soal yang beliau berikan yang ternyata untuk aku. Aku tak bisa menjawab karena kaget, bukan karena tak bisa menjawab soal tersebut. Saat itu memang aku keliahtan sedikit marah, walaupun dalam hati tapi pasti kelihatan lah di wajah aku saat itu. Dia pun akhirnya maklum, namun sebagian teman2 ada yang menahan tawa, tersenyum tapi tak ada yang menampakannya secara langsung, takut juga mungkin kena cipratannya. Namun ketika jam istirahat kejadian tadi jai bahan tertawaan bagi teman2 ku di kelas 1.1.

Sejak saat itulah aku lebih konsentrasi lagi saat Ibu Sihotang mengajar, dan alhamdulillah saya termasuk murid beliau yang memiliki NEM tertinggi untuk bidang matematika. Lulus dari SMP dengan nilai 42 koma sekian dengan 6 mata pelajaran. Ibu Sihotang kami ini kadang juga bisa mengajarkan matematika ini serius, namun kadang penuh canda juga, bahkan kadang kala beliau bisa ngakak, tertawa lepas didalam kelas. Di saat mau Ebtanas, sore harinya kami dilatih membahas ujian2 tahun lalu, dan beliau termasuk orang yang paling bersemagat, memotivasi kami untuk lebih jeli dan cermat dalam menjawab pertanyaan matematika yang punya jawaban pasti.

Di SMAN 2 Duri, aku diajar oleh Ibu Em dari kelas satu hingga kelas tiga, persis ketika alhamdulillah diajar oleh satu guru, sehingga aku bisa paham karakter guru tersebut dan guru pun bisa memahami kami. Ibu Em ini mengajar hanya di kelas Fisika dan Bio saja sejak kelas dua, hal yang memang berbeda dengan matematika untuk IPS. Beliau guru yang sangat sabar, suaranya lembut. Sangat beda dengan Ibu Yusnini dam Ibu Sihotang. Kadang untuk menyimak uraian beliau, kita harus konsentarsi penuh. Alhamdulillah selama diajar beliau boleh dikatakan saya adalah murid yang paling bisa dan rajin dalam setiap memecahkan sola-sola yang sulit. Pernah, sahabat ku, juara kelas kami, Albertina (diterima di matematika UGM melalui jalur PBUD) bertanya pada bu Em tentang soal matematika yang sulit, Buk Em meminta saya untuk bisa memecahkannya. Alhamdulillah kami pun bisa menjawab pertanyaan tersebut. Hal yang sangat sulit bagi kebanyak siswa adalah trigonometri, namun ini lah yang aku sukai, aku bisa mengutak-atik menjadi apa saja, sesuai targetyang diinginkan. Begitu juga dengan diferensial, I love it so much.

Saat di dua/tiga Fisika itu banyak diantara kami yang sanat menyukai pelajaran matematika ini, alhamdulillah dari kelas kami pun banyak yang bisa melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi. Lima dari kami yang ikut Penyaringan Bibit Unggul Daerah, termasuk saya, Albertina lahyang paling beruntung dan pilihannya pun tetap matematika. Saya pun lulus Ebtanas dengan nilai matematika yang tertinggi dengan angka 8,25 saat itu, sama dengan nilai bahasa Inggris.

Namun kecintaan terhadap matematika ku tak berlanjut hingga ke PTN. Aku diterima di Kimia Unand, namun dari nilai kalkulus I, II dan III tak ada yang istimewa. Hal ini mungkin karena pengaruh dosennya juga. Aku di kelas ganjil, mendapatkan dosen pria seorang perokok berat, yang sangat tergantung dengan sebatang rokok. Yang bisa kehabisan ide jika tidak meng”isap”. Entah karena ketidaksukaan pada pak dosen ini, maka aku tak bisa menumbuhkan “cinta” yang berlebih pada Kalkulus.

Demikianlah penggalan bermatematikaku, semoga bisa menjadi bahan renungan juga buat Dhila nantinya. Wassalam

Selasa, 24 Maret 2009

brainpop

ada keywordnya, yakni nama guru bio

Senin, 23 Maret 2009

Berjalan Dengan Keong

Berjalan Dengan Keong
Oleh: NN.
Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan. Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha keras merangkak. Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit. Aku mendesak, menghardik, memarahinya! , Keong memandangku dengan pandangan meminta-maaf, serasa berkata : "aku sudah berusaha dengan segenap tenaga !"
Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, keong terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan. Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan. Ya Tuhan! Mengapa ? Langit sunyi-senyap. Biarkan saja keong merangkak didepan, aku kesal dibelakang. Pelankan langkah, tenangkan hati....
Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga. Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut. Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing. Aku lihat langit penuh bintang cemerlang. Oh? Mengapa dulu tidak rasakan semua ini? Barulah aku teringat, Mungkin aku telah salah menduga!
Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalo aku berjalan sendiri dengan cepatnya.
"He's here and with me for a reason"
 Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi, Haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu. Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.
 Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya. Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.
 Saat bertemu penolongmu, Ingat untuk bersyukur padanya. Karena ialah yang mengubah hidupmu
 Saat bertemu orang yang pernah kau cintai, Ingatlah dengan tersenyum untuk berterima-kasih. Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.
 Saat bertemu orang yang pernah kau benci, Sapalah dengan tersenyum. Karena ia membuatmu semakin teguh/kuat.
 Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, Baik-baiklah berbincanglah dengannya. Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.
 Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai, Berkatilah dia. Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia ?
 Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu, Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu. Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu
 Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan
 Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup, Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu. Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati..

Ultah Imam

Alhamdulillah, pada Sabtu 21 maret yang lalu Imam berusia 3 tahun. Kami merayakannya dengan sederhana bersama dengan seisi keluarga. Kue ulang tahunnya dibelikan oleh Ante Anda berikut dengan lilinnya. Lilin ditiup berkali-kali hingga puas.
Kue di potong, dimakan bersama dengan anggota keluarga yang ada waktu itu, saya, Imam, Dhila, Ante Yolanda dan mbak Fitri.
Dengan gembira Imam membagikan potongan kuenya pada kami semua. Bundanya saat itu sedang mengajar di SMF Ditkesad, namun pagi sebelum berangkat sudah cipika-cipiki dengan Imam. Hingga bundanya datang, sorenya kue tart tersebut masih tersisa hingga minggu pagi dan di bagi-bagi kan buat teman-teman dia yang ada disekitar rumah. Dhila lah yang mengantarkannya.
Alhamdulillah, menjelang sebulan Imam berulang tahun dia sudah ikut sholat bersama kami. Sedikit demi sedikit kami mengajrakan cara berwudhu, walaupun hingga saat ini belum begitu sempurna, tapi dia sangat antusias apabila melihat kami ke kamar mandi untuk berwudhu. Maklum karena masih anak-anak, dia sangat memperhatikan cara-caara kami wudhu dan sholat.
Sajadahnya juga tersendiri, yang paling besar yang kami miliki. Begitu juga terhitung menjelang ultah Imam, kami sudah mulai membiasakan untuk magrib dan isya di masjid Puri Bintaro Hijau. Masjid yang baru selesai dibangun, dan sudah mulai aktif sholat berjamaahnya. Alhamdulillah, dia sudah mulai betah duduk di masjid.
Hehehe, walau dia Imam, tapi sholatnya di shaf belakang.

Rabu, 18 Maret 2009

Dhila masuk SD

Sekedar berbagi pengalama ketika Dhila akan masuk SD tahun lalu. Saat itu kami pindahan dari Kreo ke rumah sekarang, Puri Bintaro Hijau pertengahan desember 2007 dengan kondisi rumah yang belum direnovasi. Tiga hari setalah pindh kami harus pulang ke kampung karena Rini, adikku akan menikah pada bulan tersebut. Tiga minggu lebih di kampung, Sumbar dan Riau, kami kembali lagi ke Jakarta.
Tak dapat dibayangkan berapa dana yang terkuras sementara rumah masih berantakan, dapur pun masih beralas tanah. So selama lebih kurang 3 bulan renovasi mulailah kami dapat hidup sehat dan layak, tak ada debu, pasir, semen etc.
Tabungan habis dan hutang pun masih tersisa pada saudara dan teman yang mesti dicicil, dan tak terbayangkan bahwa Dhila akan masuk ke sekolah swasta. Akhirpun kami bertekad mengusahakan Dhila untuk masuk SD Negeri. Niat masuk ke swasta pun harus dikubur karena seleksi swasta biasanya sudah tutup pada bulan Februari.
Alhamdulillah pada akhir Mei, ternyata tabungan pendidikan yangselama ini rutin di potong langsung di bank Niaga sudah jatuh tempo lebihkurang 5 juta rupiah. Kami pun berpikiri untuk mencoba ulang mencari sekolah swasta. Kami coba hunting yang terdekat dekat rumah terlebih dahulu. Yang jadi alternatif adalah SD muhammadyah, formulir pun diambil.
Lainnya adalah SDN favorit, kita cari info sebanyak mungkin, bahkan kita langsung datangi majelis guru SD tersebut. Sayang dengan sistem yang ada saat itu bahwa pendaftaran online, usia menjadi prioritas, dan tak ada jaminan bahwa anak akan lulus di sekolah yang kita minati. Dengan sistem online, bahwa bila tak bisa di sekolah favorit anak akan di tempatkan di sekolah lainnya berdasarkan prioritas, yang bisa jadi lebih jauh dari lokasi rumah/tempat tinggal. Disamping itu juga bahwa Dhila terlahir pada 1 Oktober sehingga usianya saat itu belum genap 6 tahun. Berdasarkan kondisi tersebut makanya kami coba lagi mencari swasta lainnya.
Selain telah mengisi formulir SD Muhammadyah, secara iseng saja saya coba tanyakan ke SD Islam Amalina, apakah masih ada pelungan buat Dhila disana. Kalo tak salah saat itu diakhir mei. Alhamdulilah untuk sementara dia masuk sebagai cadangan no 11. Boleh dikatakan hampir 2/3 hari saya coba tanyakan terus ke bagian admin nya kapan seleksi untuk yang cadangan. Entah kenapa hingga saya dapt info terakhir bahwa ada calon siswa terseleksi yang mengundurkan diri dikarenakan ayahnya di PHK. Saya kejar terus info ini, kapan seleksi untuk yang cadangan.
Alhamdulillah, jadwal didapat. Kami antar Dhila waktu itu bersama-sama, saya, bundanya, Dhila dan Imam. Dengan aneka test yang dilalui Dhila, mulai membaca, menulis, berhitung, menggambar/mewarnai, hapalan surat pendek, mengaji (IQRO’) hingga tanya/jawab. Alhamdulillah total score yang dia dapat adalah 975. Hasil ini kami ketahui ketika tanya/jawab dengan orang tua. Guru yang menyeleksi menyampaikan bahwa kemampuan Dhila sudah OK dan dia langsung dinyatakan lulus seleksi. Alhamdulillah, tak terbayangkan betapa gembiranya kami. Selain bersyukur pada ALLAH SWT yang telah memberikan petunjuk dan hidayah melalui kesabaran dan kegigihan selama ini, pantas jua lah kami berterima kasih pada buk Dewi, bu Harto dan guru2 lainnnya di TK Dua Sejoli yang telah membimbing Dhila selama ini.
Alhamdulillah dengan segala rezeki yang dimiliki menjelang masuk sekolah segala kewajiban diselesaikan, yakni uang masuk dan SPPnya untuk bulan pertama sebanyak 7,5 juta rupiah harus dibayar. Alhamdulillah, jika dibandingkan dengan SDI yang ada dilingkungan kami inilah SD yang kualitas Ok dan harga nya terjangkau, bila dibandingkan dengan SDI Annisa dan SDI Auliya (t4 ibu Irmi mengajar).
Ungkapan terima kasih buat guru2 TK Dhila langsung kami sampaikan ketika banyak orangtua masih sibuk mencari sekolah buat anak-anak mereka.
Ada banyak hikmah disini:
1. Kegigihan orang tua mencarikan sekolah yang tepat buat sang buah hati mulai dari mencari info sekolah di area yang diminati hingga beurusan dengan bagian adiministrasi sekolah.
2. Kesabaran dan senantiasa percaya pada ALLAH SWT bahwa setiap anak pasti ada rezekinya masing-masing.
3. Rasa syukur pada sang Maha Kuasa dan rasa terima kasih pada guru2 yang telah membantu proses mengajar anak kita.
4. Kebersamaan dalam mendukung kemauan anak. (Ada sepenggal cerita tentang keyakinan Dhila bahwa dia yakin akan bersekolah di Amalina, padahal waktu itu kita masih survey)
5. dll (tambahin aja ya…)

Demikian sekedar mengingat apa yang dulu pernah kami alami, semoga ada manfaat. Insya ALLAH dilain episode akan disambung. Wassalam

Selasa, 17 Maret 2009

Hasil Ulangan Kompetensi

Alhamdulillah, siang tadi saya dan bunda baru malihat hasil ulangan kompetensi Dhila yang telah dilakukan beberapa minggu nan lalu. Hasilnya sangat memuaskan. Nilai terendah hanya 88 untuk tiga mata pelajaran dan yang tertinggi 100 untuk pelajaran agama. Matematikanya 94, memuaskan.Yang lainnya diatas 90-an.
Insya ALLAH ada perbaikan ke depan sehingga nilai ujian UTS nya, awal April ini bisa lebih baik lagi. Teringat komentar dia saat habis ulangan kemarin: "Kakak ada cerobohnya juga", koment di begini menggelikan juga bagi kami.
Dia tahu dia ceroboh, mudah-mudahan ALLAH SWT memberi kami kesabaran dan ketekunan dalam mendidik Dhila dan Imam di kemudian hari. Ya, ALLAH ya Rabbi, bantu kami dalam menjauhkan mereka dari sifat ceroboh, dan senantiasa tunjuki kami apabila melakukan hal yang ceroboh. Jangan biarkan kami tenggalam dalam kecerobohan, ya ALLAH.
Ya Allah berilah kekuataan untuk menyempurnakan apa yang kami miliki, termasuk qalbu dan akal kami. Amin, amin ya ALLAH.