Hari ini aku teringat akan pelajaran matematika dan guru2 yang sangat berpengaruh pada diriku selama ini. Alhamdulillah hari ini adalah mid test Dhila di SD Amalina yang kebetulan matematika adalah ujian pertamanya minggu ini.
Sambil memboncengi dia, Imam dan bundanya tadi pagi aku sempat mengingatkan kembali penjumlahan dasar untuk dia. Nah dalam perjalanan ini lah, aku teringat bagaimanakah aku dulunya? Ketika usia yang sama dengan dia? Siapakah guru matematika yang mengantarkan aku selalu meraih nilai tertinggi untuk bidang yang sangat ditakuti oleh banyak murid ini?
Yup, ternyata anak bisa mengembalikan ingatan kita pada masa kecil dulu, terumata masa-masa yang sangat berkesan.
Yang jelas aku tak banyak ingat saat dikelas satu, mungkin hampir semua pelajarannya. Hal ini mungkin karena banyak moment ku tersita saat papa lebih banyak dirawat dirumah tek Chun di Padang hingga wafatnya yang dimakamkan di kampung disamping rumah, di Lima Kaum Batusangkat. Papa memang lama dirawat disana dan dikampung karena penyakit beliau yang lumayan parah, yakni kanker paru-paru. Maklum beliau perokok dan pengopi berat. Ini jua yang akhirnya menginsyafi aku untuk berhenti merokok total menjelang SMA.
Dikelas dua, wali kelas ku adalah ibu Nurlen, seorang guru yang sangat bijak dan sudah berumur. Alhamdulillah pelajaran matematika yang beliau ajarkan bagi saya dan teman sangat menyenangkan, dan setiap akan pulang kami dibiasakan untuk berlomba menjawab pertanyaan beliau, dan yang paling sering itu adalah soal matematika. Alhamdulillah saya termasuk yang paling cepat pulang karena bisa menjawab pertanyaan beliau dibandingkan teman teman lainnya. Dengan bimbingan beliau di kelas dua itulah aku sudah hapal perkalian1 hingga perkalian 10. Semoga ALLAH memuliakan beliau dan menjadi apa yang saya dapat sebagai ibadah buat beliau.
Saat di kelas 6 salah seorang teman kelasku, Selhardi yang rumah kami berdekatan mengajak untuk les di rumah ibu Yusnini, guru matematika kami. Les itu sebagai persiapan untuk menghadapi Ebtanas SD. Les itu dilaksanakan malam hari, selepas magrib dan itu kami tempuh dengan berjalan kaki. Untuk ke rumah beliau, kami harus menempuh jalan melingkar seperti huruf U, yang sebenarnya jika siang hari bisa dipersingkat/dipotong secara garis lurus saja. Namun karena malam kami tak berani menempuhnya, selian gelap dan harus melewati jembatan dan rimbunnya pohon bambu dikiri kanan jembatan tersebut serta “tabek” yang ada beberapa petak sebelum dan selepas jembatan tersebut.
Ibu Yusnini ini adalah guru “killer”, yang tak bisa kompromi apabila tak menjwab pertanyaan beliau. Pernah lebih dari setangah kelas yang berdiri di depan kelas dikarenakan tak bisa menjawab pertanyaan beliau. Maklum waktu itu semuanya mesti dicatat di papan tulis, karena buku teks yang ada tak boleh di coret agar bisa digunakan oleh adik kelas berikutnya. Kadang kala jawaban itu langsung ditulis di papan tulis, tergantung siapa yang beliau tunjuk. Yang bisa boleh duduk kembali, yang tak bisa berdiri di depan kelas.
Bahkan pernah ada yang di”antuak”an kepalanya kepapan tulis, saking kesalnya beliau karena teman saya tadi tak bisa menjawab. Alhamdulillah dengan “keras” nya didikan beliau saat itu membuat kami terlecut untuk bisa menjawab setiap tuga/PR dan pertanyaan2 beliau. Saya dan teman2 yang ikut les dengan beliau termasuk yang bisa menjawab dengan mudah PR dan tugas-tugas beliau, dan kami pun lulus dengan nilai yang sangat memuaskan saat itu. Saya lulus SD dengan nilai tertinggi, 34 koma sekian dari 5 pelajaran, yang jika dirata-ratakan hampir tujuh untuk tiap pelajarannya. Selepas SD hampir tak pernah bertemu lagi dengan Ibu Yusnini ini, dan terakhir kabar beliau pindah ke bukittingi hingga wafat disana. Semoga ALLAH memberi tempat terbaik di alam sana.
Di SMP N 1 Simpang Padang saya masuk kelas unggulan, karena penempatan siswanya saat itu berdasarkan urutan NEM tertinggi untuk setiap kelas. Hingga tamat guru matematika kami adalah Ibu Sihotang. Beliau mengajar khas logat bataknya, keras juga namun mengena dalam mengajar. Beliau diberi kekhususan oleh Yang Maha Kuasa dengan memiliki mata yang juling, berkaca mata pula. Oh ya dikelas satu saat itu kami duduk dengan satu bangku satu anak. Pernah aku suatu kali saat dikelas satu ketika itu, beliau bertanya tentang satu soal, sambil berjalan dri depan ke belakang. Saat itu aku tak berpikir pertanyaan tersebut ditujukan padaku, aku pun sibuk dengan melihat teks buku matematika yang beliau ajarkan karena aku pikir pasti untuk si Deddy yang duduku dibelakang ku. Tiba-tabi “Bruk”, punggung ku dipukul dengan buka yang beliau penggang. Aku terhenyak, terdiam. Tak siap menerima pukulan buku yang lumayan tebal tersebut. Beliau marah karena aku diam, tak mengubris soal yang beliau berikan yang ternyata untuk aku. Aku tak bisa menjawab karena kaget, bukan karena tak bisa menjawab soal tersebut. Saat itu memang aku keliahtan sedikit marah, walaupun dalam hati tapi pasti kelihatan lah di wajah aku saat itu. Dia pun akhirnya maklum, namun sebagian teman2 ada yang menahan tawa, tersenyum tapi tak ada yang menampakannya secara langsung, takut juga mungkin kena cipratannya. Namun ketika jam istirahat kejadian tadi jai bahan tertawaan bagi teman2 ku di kelas 1.1.
Sejak saat itulah aku lebih konsentrasi lagi saat Ibu Sihotang mengajar, dan alhamdulillah saya termasuk murid beliau yang memiliki NEM tertinggi untuk bidang matematika. Lulus dari SMP dengan nilai 42 koma sekian dengan 6 mata pelajaran. Ibu Sihotang kami ini kadang juga bisa mengajarkan matematika ini serius, namun kadang penuh canda juga, bahkan kadang kala beliau bisa ngakak, tertawa lepas didalam kelas. Di saat mau Ebtanas, sore harinya kami dilatih membahas ujian2 tahun lalu, dan beliau termasuk orang yang paling bersemagat, memotivasi kami untuk lebih jeli dan cermat dalam menjawab pertanyaan matematika yang punya jawaban pasti.
Di SMAN 2 Duri, aku diajar oleh Ibu Em dari kelas satu hingga kelas tiga, persis ketika alhamdulillah diajar oleh satu guru, sehingga aku bisa paham karakter guru tersebut dan guru pun bisa memahami kami. Ibu Em ini mengajar hanya di kelas Fisika dan Bio saja sejak kelas dua, hal yang memang berbeda dengan matematika untuk IPS. Beliau guru yang sangat sabar, suaranya lembut. Sangat beda dengan Ibu Yusnini dam Ibu Sihotang. Kadang untuk menyimak uraian beliau, kita harus konsentarsi penuh. Alhamdulillah selama diajar beliau boleh dikatakan saya adalah murid yang paling bisa dan rajin dalam setiap memecahkan sola-sola yang sulit. Pernah, sahabat ku, juara kelas kami, Albertina (diterima di matematika UGM melalui jalur PBUD) bertanya pada bu Em tentang soal matematika yang sulit, Buk Em meminta saya untuk bisa memecahkannya. Alhamdulillah kami pun bisa menjawab pertanyaan tersebut. Hal yang sangat sulit bagi kebanyak siswa adalah trigonometri, namun ini lah yang aku sukai, aku bisa mengutak-atik menjadi apa saja, sesuai targetyang diinginkan. Begitu juga dengan diferensial, I love it so much.
Saat di dua/tiga Fisika itu banyak diantara kami yang sanat menyukai pelajaran matematika ini, alhamdulillah dari kelas kami pun banyak yang bisa melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi. Lima dari kami yang ikut Penyaringan Bibit Unggul Daerah, termasuk saya, Albertina lahyang paling beruntung dan pilihannya pun tetap matematika. Saya pun lulus Ebtanas dengan nilai matematika yang tertinggi dengan angka 8,25 saat itu, sama dengan nilai bahasa Inggris.
Namun kecintaan terhadap matematika ku tak berlanjut hingga ke PTN. Aku diterima di Kimia Unand, namun dari nilai kalkulus I, II dan III tak ada yang istimewa. Hal ini mungkin karena pengaruh dosennya juga. Aku di kelas ganjil, mendapatkan dosen pria seorang perokok berat, yang sangat tergantung dengan sebatang rokok. Yang bisa kehabisan ide jika tidak meng”isap”. Entah karena ketidaksukaan pada pak dosen ini, maka aku tak bisa menumbuhkan “cinta” yang berlebih pada Kalkulus.
Demikianlah penggalan bermatematikaku, semoga bisa menjadi bahan renungan juga buat Dhila nantinya. Wassalam